Home Travel Wisata Budaya di Provinsi Jawa Timur

Wisata Budaya di Provinsi Jawa Timur

52
0

Seperti namanya, provinsi Jawa Timur merupakan suatu daerah yang terletak di paling timur dari pulau Jawa yang beribukotakan kota Surabaya. Mempunyai luas wilayah sebesar 47.799 km², Jawa Timur mempunyai jumlah penduduk yang padat. menurut data tahun 2020, Jawa Timur memiliki jumlah penduduk lebih dari 40 juta jiwa yang berasal dari berbagai suku, yaitu suku Jawa, Tengger, Osing, Madura, Bawean, Sunda dan Tionghoa. Secara geografis, Jawa Timur berbatasan dengan:

  • Selatan: Samudera Hindia
  • Utara: Laut Jawa dan Kalimantan Selatan
  • Barat: Jawa Tengah
  • Timur: Bali

Selain dikelilingi 16 pantai eksotis yang tak terlupakan, Jawa Timur juga memiliki kebudayaan yang amat beragam. Dari segi bahasa saja, penduduk Jawa Timur mempunyai 11 ragam bahasa, yaitu bahasa Bajo, Jawa, Jawa Arekan, Jawa Jombang, Jawa Madiun, Jawa Malang, Madura, Osing, Tengger, Kangean dan Bali. Jawa Timur juga mempunyai berbagai daerah wisata yang tidak hanya cantik, tapi juga menawarkan wawasan kebudayaan bagi pengunjungnya. Apa saja?

1. Candi Brahu

Tampak depan Candi Brahu

Candi Brahu adalah sebuah candi yang terletak di kabupaten Mojokerto, tepatnya di kecamatan Trowulan. Candi Brahu diperkirakan dibangun pada tahun 861 saka atau sekitar tahun 939 M pada masa pemerintahan Raja Mpu Sendok yang berasal dari Kahuripan. Raja Mpu Sendok merupakan seorang raja yang berasal dari kerajaan Mataram kuno, sehingga Candi Brahu merupakan candi peninggakan kerajaan Mataram kuno.

Candi ini berasal dari kata wanaru dan warahu yang berarti bangunan suci. Hal ini tertulis dalam prasasti Alasantan yang ditemukan tak jauh dari lokasi candi. Masyarakat kecamatan Trowulan menyebutkan bahwa Candi Brahu adalah sebuah candi yang dimanfaatkan sebagai tempat untuk membakar jasad raja-raja dari kerajaan Majapahit hingga Brawijaya. Namun, pada bagain dalam candi tidak ditemukan sisa atau bekas seperti terbakar.

Setelah penelitian lebih lanjut, disebutkan bahwa Candi Brahu merupakan candi peninggalan agama Budha. Hal ini dapat dilihat dari struktur bangunan candi dan berbagai peninggalan yang ditemukan pada candi. Denah lokasi candi Brahu berbentuk persegi dengan luas 1345 m² dan terdiri dari bagian kaki, tubuh dan atap. Struktur bangunan candi Brahu adalah sebagai berikut:

Bagian kaki Candi Brahu terdiri dari bingkai-bingkai bertingkat setinggi 2 meter yang berbentuk setengah lingkaran dan dibangun menghadap ke arah barat. Tingkatnya sendiri berjumlah dua tingkat dan digunakan sebagai jalan menuju bagian dalam candi.

Tubuh Candi Brahu memiliki banyak sudut yang tumpul dan berbentuk seperti pinggang. Pada bagian tubuh candi, terdapat sebuah pintu setinggi 2 meter dan ruangan dalam candi berukuran 4 x 4 meter. Disebutkan bahwa ruangan dalam candi ini bisa menampung hingga 30 orang.

Bagian atap Candi Brahu memiliki bentuk prisma namun dengan bagian ujung atap yang datar. Bagian atap ini memiliki tinggi sekitar 6 meter.

Berbagai barang peninggalan pada bagian dalam candi maupun sekitarnya juga menunjukkan bahwa Candi Brahu merupakan candi peninggalan agama Budha. Pada sekitaran candi ditemukan alat-alat upacara kuno dan juga peralatan yang terbuat dari logam, seperti perhiasan emas dan perak, arca bercorak Budha dari logam, serta piring yang terbuat dari logam.

Nama tempat wisata Candi Brahu
Alamat Jl. Candi Brahu no 73 kec Trowulan, Mojokerto
Jam buka 8 pagi – 4 sore
HTM Rp3.000
Informasi Wisata

2. Kampung Batik Jetis

Kain batik dalam proses pengerjaan

Tak hanya kampung Jodipan di Malang, Jawa Timur juga memiliki Kampung Batik Jetis. Sesuai dengan namanya, Kampung Batik Jetis merupakan suatu perkampungan di mana masyarakatnya sebagian besar memproduksi kain batik kemudian dijual di depan rumah masing-masing. Kampung ini terletak di kabupaten Sidoarjo dan sudah ada sejak tahun 1675. Sungguh legendaris bukan? Batik yang diproduksi dan dijajakan merupakan jenis batik tulis tradisional. Selain kain batik, pakaian batik siap pakai pun tersedia di sini.

Awalnya, kampung ini berasal dari seorang yang dikenal dengan nama Mbah Mulyadi. Mbah Mulyadi dipercaya sebagai seorang keturunan raja pada jaman dahulu. Namun, para penjajah ingin menangkap Mbah Mulyadi, sehingga Beliau melarikan diri ke kabupaten Sidoarjo dan menyamar sebagai pedagang. Selain berdagang, Beliau juga mengajarkan masyarakat sekitar untuk mengaji dan membatik. Sejak itulah terbentuk Kampung Batik Jetis ini.

Kampung Batik Jetis mulai dikenal masyarakat luas mulai tahun 1950. Sejak saat itu, banyak masyarakat luar kabupaten Sidoarjo yang mengunjungi Kampung Batik Jetis. Tidak mengenal hari biasa maupun akhir pekan, kampung ini selalu ramai. Seperti Rumah Batik Komar di Bandung, pengunjung juga bisa belajar membatik langsung dari perajin batik di Kampung Batik Jetis ini, tentunya dengan membuat perjanjian terlebih dahulu. Maka dari itu, Kampung Batik Jetis menjadi salah satu tujuan wisata bagi anak sekolah guna memperkenalkan salah satu kebudayaan Indonesia.

Pelanggan dari Kampung Batik Jetis pun beragam. Selain warga luar Sidoarjo, pembeli dari luar negeri seperti Tiongkok pun ada. Hal ini disebabkan motif batik yang ditawarkan sangatlah unik, seperti motif abangan, ijo-ijoan, beras kutah, krubutan, laba-laba, burung merak hingga kelelawar. Selain itu, warna batik juga cerah dengan dominasi warna merah, hijau, kuning, serta hitam, menjadikan batik produksi Kampung Batik Jetis sangat menarik. Harga yang ditawarkan sangat beragam, mulai yang terjangkau hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan motif batik. Batik di Kampung Batik Jetis dapat dimiliki mulai dari harga Rp150.000.

Nama tempat wisata Kampung Batik Jetis
Alamat Jl. P. Diponegoro, Lemahputro, Sidoarjo
Jam buka 7 pagi – 6 sore
HTM
Informasi wisata

3. Candi Penataran

Candi Penataran

Jika berkunjung ke tempat wisata di Gunung Kelud dan sekitarnya, tak ada salahnya untuk mampir ke Candi Penataran. Candi Penataran terletak di dekat gunung Kelud, tepatnya di sebelah barat daya gunung. Candi ini merupakan candi agama Hindu dan dipercaya dibangun pada jaman kerajaan Kediri di masa pemerintahan Raja Srengga tahun 1190 – 1200 saka, dan digunakan hingga jaman kerajaan Majapahit. Kompleks Candi Penataran memiliki luas hampir 13.000 m². Hal ini menjadikan Candi Penataran sebagai kompleks candi agama Hindu terluas di Jawa Timur.

Candi Penataran mempunyai nama lain yaitu Candi Palah. Hal ini tertuang dalam kitab Negarakertagama. Candi ini dibangun untuk memuja gunung, yaitu Gunung Kelud, agar terhindar dari bahaya dan mala petaka yang dapat disebabkan oleh gunung tersebut. Relief yang terpahat pada Candi Penataran bisa disebut legendaris. Relief yang terpahat merupakan cerita romantisme tokoh terkenal, yaitu relief Ramayana milik Rama dan Sinta, serta relief Krisnayana milik Krisna dan Rukmini. Selain itu, Candi Penatan juga diduga sebagai tempat pendharmaan Ken Arok. Ditemukan pula pahatan relief yang mirip kisah cinta Ken Arok dan Ken Dedes.

Kompleks Candi Penataran dibagi menjadi empat bagian:

Ketika masuk ke gerbang Candi Penataran, pengunjung akan melalui serangkaian tangga turun menuju ke tempat arca penjaga pintu atau dwarapala. Kemudian di belakang arca ini, barulah terdapat tangga naik menuju halaman depan candi.

Pada halaman depan Candi Penataran, terdapat tiga buah bangunan, yaitu:

  1. Bale Agung

Bale Agung dipercaya memiliki fungsi sebagai tempat musyawarah para pemuka agama. Bangunannya berbentuk seperti panggung dengan ukuran 37 x 18.84 x 1.44 meter.

2. Pendopo Teras

Pendopo teras memiliki beragam fungsi, di antaranya sebagai tempat meletakkan sesaji dan tempat istirahat para raja juga bangsawan. Pendopo Teras terletak di sebelah tenggara Bale Agung.

3. Candi Candra Sengkala

Candi Candra Sengkala disebut juga dengan nama Candi Brawijaya. Di dalam candi terdapat arca Ganesha. Pada bagian sebelah kiri candi terdapat arca seorang wanita yang dipercaya sebagai Gayatri Rajapatni.

Masuk ke halaman tengah Candi Penataran, pengunjung akan disambut kembali oleh sepasang dwarapala, namun ukurannya lebih kecil daripada yang terdapat pada bagian gerbang. Pada halaman tengah ini terdapat Candi Naga. Disebut Candi Naga karena pada badan candi terdapat pahatan yang mirip seperti dililit oleh naga. Candi ini memiliki ukuran 5 x 7 x 5 meter.

Selain pahatan naga, terdapat pula pahatan sembilan tokoh yang dipercaya sebagai dewa. Hal ini karena, pahatan kesembilan tokoh tersebut mengenakan busana yang mewah. Candi Naga juga dipercaya sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda yang berasal dari para dewa.

Memasuki halaman belakang candi, lagi-lagi pengunjung akan disambut oleh dua arca dwarapala. Pada halaman belakang terdapat Candi Utama atau disebut juga dengan Candi Induk. Candi Utama merupakan candi terbesar dalam kompleks Candi Penataran ini. Candi Utama memiliki tinggi 7.19 meter dan terdiri dari tiga teras:

  1. Teras Pertama

Teras pertama memiliki panjang 31 meter dan terdapat tangga pada sisi kanan dan kirinya. Pada masing-masing tangga terdapat sepasang dwarapala. Dinding teras pertama penuh dengan pahatan cerita Ramayana.

2. Teras Kedua

Teras Kedua memiliki ukuran yang lebih kecil daripada teras pertama. Pada dinding teras kedua ini juga dipenuhi pahatan cerita Ramayana. Terdapat pula pahatan cerita Krisyana pada dinding teras ini.

3. Teras Ketiga

Teras Ketiga merupakan teras paling atas dari Candi Utama. Bentuknya menyerupai persegi. Pada dinding teras, terdapat pahatan naga dengan kepala yang mendongak serta pahatan singa bersayap dengan kaki depan terangkat.

Pada halaman belakang Candi Penataran juga terdapat Prasasti Palah. Prasasti ini ditulis oleh Raja Srengga menggunakan huruf Jawa kuno dan terdapat tulisan tahun 1119 saka atau 1197 M. Isi dari Prasasti Palah antara lain menceritakan tentang rasa syukur Kertajaya karena telah lepas dari bencana. Selain itu, prasasti ini juga berisikan tentang peresmian tanah untuk Sira Paduka Batara Palah, di mana Palah di sini dipercaya sebagai Candi Penataran.

Nama tempat wisata Candi Penataran
Alamat Desa Penataran, kec Nglegok, Blitar
Jam buka 8 pagi – 5 sore
HTM Rp5.000
Informasi wisata

4. Candi Singosari

Candi Singosari

Candi yang terletak di kabupaten Malang ini merupakan sebuah candi yang dibangun sekitar tahun 1300 M untuk menghormati Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari. Pada saat itu, Raja Kertanegara, yang merupakan raja terakhir pada jaman Kerajaan Singosari, diserang oleh Raja Jayakatwang yang berasal dari Kerajaan Kediri hingga akhirnya sang raja mangkat pada tahun 1292 saka.

Candi Singosari diduga menjadi candi yang paling tinggi pada masanya. Hal ini dibuktikan dengan adanya nama lain dari Candi Singosari yakni Candi Cungkup, Candi Menara dan Candi Renggo. Tinggi Candi Singosari mencapai 14.10 meter dan terdiri dari tiga bagian:

Bagian dasar atap Candi Singosari berbentuk persegi dengan ukuran 5 m² dan semakin mengerucut ke atass menyerupai bentuk piramida. Sayangnya, bagian puncak atap sudah roboh dan yang tersisa hanya tingkat pertama dan kedua saja dari atap tersebut.

Bagian tubuh Candi Singosari juga berbentuk persegi dengan panjang masing-masing sisi sebesar hampir 6 meter dan memiliki tinggi hampir 5 meter. Di sini, terdapat sebuah pintu untuk masuk ke dalam tubuh candi, namun ruangan dalam candi dikabarkan kosong.

Bagian kaki Candi Singosari memiliki tinggi antara 1.5 – 1.9 meter. Pada dinding kaki tidak terdapat pahatan relief. Di sini, terdapat beberapa undak anak tangga untuk menuju pintu pada bagian tubuh candi.

Yang menjadi keistimewaan dari Candi Singosari adalah adanya dugaan bahwa Candi Singosari sebenarnya belum selesai dibangun. Para ahli berkesimpulan demikian karena minimnya pahatan relief pada candi, seperti pahatan relief yang dinilai kurang kompleks hingga tidak adanya pahatan relief pada bagian sisi kaki candi. Selain itu, dengan melihat luas kompleks Candi Singosari, para ahli berpendapat bahwa seharusnya ada candi-candi lain yang dibangun di sekitaran Candi Singosari. Kemudian, ditemukan pula arca-arca yang dianggap kurang sempurna bentuknya, sehingga menimbulkan kesan pula bahwa arca tersebut belum selesai dibuat.

Nama tempat wisata Candi Singosari
Alamat Desa Candirenggo, kec Singosari, kab Malang
Jam buka 7 pagi – 5 sore
HTM Rp5.000
Informasi wisata

5. Taman Budaya Jawa Timur

Pendopo di Taman Budaya Jawa Timur

Taman Budaya Jawa Timur merupakan pusat bagi para pecinta budaya di provinsi paling timur Pulau Jawa ini. Terletak di Surabaya, taman budaya ini sudah ada sejak tahun 1978. Taman Budaya Jawa Timur juga mempunya nama lain, yakni Taman Budaya Cak Durasim. Cak Durasim sendiri merupakan seniman asal Jombang. Dahulu, Beliau gemar memperagakan cerita legenda dari Surabaya melalui kesenian ludruk. Maka, taman budaya ini segaligus sebagai penghormatan masyarakat Surabaya terhadap Cak Durasim.

Dengan luas lebih dari 10.000 m², Taman Budaya Cak Durasim memiliki berbagai bangunan yang memiliki fungsi masing-masing. Bangunan tersebut di antaranya:

Pendopo Jayengrono bisa dikatakan sebagai bangunan utama di Taman Budaya Jawa Timur ini. Uniknya, pendopo ini sudah berdiri sejak tahun 1915. Pendopo Jayengrono biasa digunakan sebagai tempat pertunjukan seni budaya, seperti seni tari atau wayang kulit, dan digunakan pula untuk latihan menari.

  • Gedung Kesenian Cak Durasim

Memaksimalkan fungsinya sebagai bentuk penghormatan kepada Cak Durasim, di Taman Budaya Jawa Timur juga terdpat bangunan khusus yang didedikasikan untuk Cak Durasim. Gedung ini didirikan pada tahun 1976 dan dapat menampung hingga 600 orang.

Aula Sawunggaling merupakan sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pameran kesenian atau lomba, seperti pameran foto atau lomba baca puisi. Aula ini memiliki luas 6.5 x 17.5 meter.

Di bagian belakang dari Aula Sawunggaling terdapat sebuah Panggung Terbuka. Panggung ini fungsinya sama dengan Pendopo Jayengrono, yaitu sebagai tempat pertunjukan kesenian dan latihan menari.

Galeri Seni Prabangkara merupakan sebuah ruangan yang digunakan untuk menggelar pameran seni rupa. Galeri ini terbilang bangunan baru, karena baru diresmikan pada tahun 2015 silam.

Selain bangunan-bangunan di atas, terdapat beberapa bangunan lainnya yang juga digunakan untuk terus mendukung pelestarian budaya di Jawa Timur. Bangunan tersebut, yaitu Wisma Seniman Sawungrono, Ruang Gamelan Sawungsari, serta Galeri Seni dan Kerajinan.

Nama tempat wisata Taman Budaya Jawa Timur
Alamat Jl. Genteng Kali no 85, kec Genteng, Surabaya
Jam buka Senin – Jumat, 7 pagi – 3 sore
HTM
Previous articleMencoba Glampingan Di Wisata Alam Sevillage
Next articleSensasi Berkemah Di Puncak Gunung Kukusan
Hibur adalah portal berita yang bisa menghibur dan menjadi wawasan serta tempat mencari informasi terupdate

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here